BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kajian tasawuf Nusantara adalah
merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kajian Islam di Indonesia. Sejak
masuknya Islam di Indonesia telah tampak unsur tasawuf yang mengisi kehidupan
beragama masyarakat Indonesia, bahkan saat inipun kajian mengenai tasawuf masih
menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Indonesia, dapat dibuktikan dengan
semakin maraknya kajian Islam.
Menurut Dr. Alwi Shihab, tasawuf adalah faktor
terpenting bagi tersebarnya Islam secara luas di Asia Tenggara. Meski setelah
itu terjadi perbedaan pendapat mengenai kedatangan tarekat, apakah bersamaan
dengan masuknya Islam atau datang kemudian. Perbedaan yang sama terjadi pula
mengenai tasawuf falsafi yang diasumsikan sebagai sumber inspirasi bagi
penentuan metode dakwah yang dianut dalam penyebaran Islam tersebut.
Maka dari itu dalam makalah ini kami akan menjabarkan
mengenai bagaiamana tasawuf yang bekembang di Indonesia.
B.
Rumusan Masalah
1. Masuknya islam ke Indonesia
2. Masuknya tasawuf ke Indonesia
3. Pemikiran tokoh tasawuf di Indonesia
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Masuknya Islam ke Indonesia[1]
Kapan
persisnya Islam pertama kali masuk ke Indonesia? Sebagian besar orientalis
berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 H dan 13 H. Pendapat
itu didasarkan pada dua asumsi: pertama, bersamaan dengan jatuhnya Baghdad pada
656 M di tangan penguasa Mongol yang sebagian besar ulamanya melarikan diri
hingga ke Kepulauan Nusantara, kedua, ditemukannya beberapa karya sufi pada
abad ke-7 H. Menurut Dr. Alwi Shihab, asumsi itu tak bisa diterima. Bagi dia,
justru Islam pertama kali masuk ke Nusantara pada abad pertama Hijriyah. Yakni,
pada masa pedagang-pedagang sufi-Muslim Arab memasuki Cina lewat jalur laut
bagian barat. Kesimpulan itu didasarkan pada manuskrip Cina pada periode
Dinasti Tang. Manuskrip Cina itu mensyaratkan adanya permukiman sufi-Arab di
Cina, yang penduduknya diizinkan oleh kaisar untuk sepenuhnya menikmati
kebebasan beragama.
Cina yang dimaksudkan dalam manuskrip pada abad pertama Hijriyah itu tiada lain adalah gugusan pulau-pulau di Timur Jauh, termasuk Kepulauan Indonesia. Dari laporan jurnalistik Cina itu pula kita mendapati informasi baru bahwa ternyata jalur penyebaran Islam mula-mula di Indonesia bukanlah dari tiga jalur emas (Arab, India, dan Persia) sebagaimana tertulis dalam buku-buku sejarah selama ini, melainkan dari Arab langsung. Itu seperti dinyatakan kedua orientalis terkemuka, GH Niemn dan PJ Velt bahwa orang-orang Arab-lah pelopor pertama memperkenalkan Islam di Kepulauan Nusantara. Yakni dari keturunan Ahmad ibn Isa al-Muhajir Alawi.
Cina yang dimaksudkan dalam manuskrip pada abad pertama Hijriyah itu tiada lain adalah gugusan pulau-pulau di Timur Jauh, termasuk Kepulauan Indonesia. Dari laporan jurnalistik Cina itu pula kita mendapati informasi baru bahwa ternyata jalur penyebaran Islam mula-mula di Indonesia bukanlah dari tiga jalur emas (Arab, India, dan Persia) sebagaimana tertulis dalam buku-buku sejarah selama ini, melainkan dari Arab langsung. Itu seperti dinyatakan kedua orientalis terkemuka, GH Niemn dan PJ Velt bahwa orang-orang Arab-lah pelopor pertama memperkenalkan Islam di Kepulauan Nusantara. Yakni dari keturunan Ahmad ibn Isa al-Muhajir Alawi.
B. Masuknya Tasawuf ke Indonesia
Tasawuf merupakan bagian
yang tidak dapat terpisahkan dari pengkajian islam di Indonesia, Irak Palestina
dan lain-lain. Sejak Masuknya islam ke Indonesia, unsur tasawuf telah mewarnai kehidupan keagamaan masyarakat,
bahkan hingga saat inipun, nuansa tasawuf masih kelihatan menjadi bagian yang
tidak terhapurkan dari pengalaman keagaaan kaum muslis di Indonesia[2].
Bila membicarakan tentang sejarah dan pemikiran tasawuf di indonesia,
aceh memainkan peran yang sangat penting. karena aceh merupakan wilayah yang
tidak dapat dipisahkan dari sejarah indonesia khususnya , umumnya dengan
malaysia, thailand, brunei darussalam, dan negara semenanjung malaya.untuk itu
tentang sejarah pemikiran tasawuf di indonesia, aceh menempati posisi pertama
dan strategis, karena nantinya akan mewarnai perkembangan tasawuf di indoensia
secara keseluruhan. Menelusuri mewabahnya aliran ini di Indonesia, maka hal ini
tidak lepas dari pada peran andil orang-orang yang melakukan study ( belajar )
ke negara Timur tengah. Diantara para pelopor berkembangnya aliran tasawuf di
Indonesia, sebagaimana yang disebutkan dibeberapa literatur diantaranya adalah
: Nuruddin Ar Raniri ( wafat tahun 1658 M ), Abdur Rauf As Sinkili (1615 -1693
M ), Muhammad Yusuf Al makkasary ( 1629-1699 M ). Mereka ini belajar di kota
Makkah[3].
Abdurrauf As-sinkili setelah belajar beberapa lama kemudian diangakat
sebagai khalifah Tarekat Syatariyah oleh Muhammad Al Quraisy. Dirinya kembali
ke Aceh setelah gurunya meninggal. Keberadaanya di tanah Aceh cukup dipandang
oleh para penduduk bahkan dijadikan sebagai panutan dimasyarakat, bermodal
kepercayaan yang telah diberikan masyarakat kepadanya serta kegigihan
murid-muridnya, maka dengan mudahnya ia berhasil mengembangkan ajaran Thariqot
sufiyahnya dengan perkembangan yang sangat pesat hingga paham itu tersebar
sampai ke Minang kabau ( Sumatra Barat ). Salah satu murid Abdur Rouf as
Sinkili yang berhasil menyebarkan paham ini adalah Burhanuddin. Demikianlah
jejak pemahaman yang ditinggalkan oleh As Sangkili yang berkembang pesat
ditanah Minang yang terkenal dengan religiusnya itu..
As-Sinkili meningggal dan dikuburkan di Kuala, mulut sungai Kapuas.
Tempat tersebut kini menjadi tempat ziarah yang banyak dikunjungi banyak orang.
Sedang Muhamad Yusuf Al Makasary setelah bertemu dengan gurunya yakni
Syaikh Abu Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub Al Kholwati Al Khurosy As Syami Ad
Dimasqy, kemudian diberi otoritas untuk menjadi kholifah bagi aliran Thariqot
Kholwatiyah dan diberi gelar dengan Taj Al Kholwati ( Mahkota Kholwati ).
Setelah kembali ke Aceh ia pun mulai mengembangkan paham Kholwatiyah ditanah
Rencong ini.
Adapun Nuruddin Muhammad bin Ali bin Muhammad Ar-Raniri (Ar-raniri) masuk
ketanah Aceh pada masa kekuasaan sultan Iskandar muda. Tapi Pada masa itu yang
berperan sebagai mufti kerajaan adalah Syamsudin As-Sumatrani, putra
kelahiran Aceh, beliau adalah murid hamzah Fansuri dan mendapatkan pendidikan
kesufian dari hamzah Fansuri yang diberi gelar ulama' dan berpemahaman Sufi
Wujudiyah. Dikarenakan kedudukan yang disandangnya cukup strategis, maka dengan
mudah ia mengembangkan paham yang dianutnya itu. Syamsudin ini bekerjasama
dengan Hamzah Fansuri, seorang ulama' yang banyak mengekspresikan pemahamannya
melalui keindahan kata ( prosa ).
Dan dari beberapa catatan literatur diperoleh informasi, bahwa
orang-orang Indonesia dan Melayu yang study di Timur Tengah, kemudian pulang ke
Nusantara dan menyebarkan ajaran tasawwuf (tarekat) masih banyak lagi. Ada
beberapa nama yang perlu di sebutkan disini mengingat keterkaitannya dalam
penyebaran tarekat di Indonesia yang hingga sekarang ajarannya masih berujud.
Mereka adalah Abdus Shomad al Palimbani dan Muhammad Arsyad al Banjari
(1710,1812 M). Nama terakhir ini termasuk yang mampu merombak wajah Kerajaan
Banja di Kalimantan Selatan. Bahkan karya bukunya yang banyak dikaji di
beberapa wilayah Indonesia dan Asia Tenggara, Sabil Al Muhtadiin, kini
diabadikan sebagai nama masjid besar di Kota Banjar Masin.
Pendapat yang berkembang dikalangan Ahlu Tarekat, dewasa ini di Indonesia
bekembang dua macam kelompok tarekat, yaitu tarekat mu'tabarah dan ghairu
mu'tabarah. Beberapa kelompok yang tergolong mu'tabarah seperti; Qodariyah,
Naqsyabandiyah, Tijaniyah, Syathariyah, Syadzaliyah, Khalidiyah, Samaniyah dan
Alawiyah. Dari sekian banya Thariqot mu'tabarah (berdasarkan muktamar NU di
pekalongan tahun 1950, dinyatakan 30 macam Thariqot yang di nilai mu'tabarah ),
Thariqot Naqsabandiyah - Qodariyah merupakan yang terbesar[4].
C. Pemikiran Tokoh Tasawuf di
Indonesia
Sejarah islam dan berbagai
cabangnya, termasuk sejarah tasawuf dan pengikutnya sangat penting untuk
diperkenalkan dan dibahas, diantaranya adalah mengenai tokoh-tokoh dari ajaran
tasawuf di Indonesia ini. Karena, tasawuf terus mengalami perkembangan
dan memberi pengaruh penting di Indonesia. Sejak permulaan sejarah Islam di
wilayah tersebut hingga hari ini, selama beberapa abad permulaan sejarah,
terutama pada abad ke-10 H/ 16 M dan ke-11/ 17 M, tasawuf memainkan peranan
terbesar dan paling menentukan dalam membentuk pandangan religius, spiritual,
dan intelektual di kepulauan Indonesia dan kepulauan disekitarnya.
Disini kami
akan menjabarkan tentang beberapa tokoh-tokoh ulama tasawuf di Indonesia. Diantaranya Syeikh Hamzah Fansuri, Syeikh Nawawi al- Bantani, Syeikh
H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA),
Walisongo dan Syeikh Siti Jenar.
1.
Syeikh
Hamzah Fansuri
Hamzah Fansuri dilahirkan di kota Barus atau Fansur,
sekarang merupakan kota kecil Pantai Barat Sumatra, antara Sibolga (Sumatra
Utara) dan Singkel (Aceh Selatan). Hamzah Fansuri belajar di berbagai
tempat, seperti; Aceh, Jawa, Tanah Melayu, India, Persia, Arab, dsb. Diantara
guru yang paling berpengaruh adalah Ibrahim Bin Hasan al- Kurani (Madinah). [5]
Keahlian beliau
terletak pada bidang ilmu fiqh, tasawuf, mantiq, sejarah, filsafat, dan sastra.
Di bidang tasawuf misalnya, beliau merupakan salah seorang ulama yang
mengajarkan Wahdatul Wujud. Jalan pikiran tasawufnya banyak dipengaruhi
oleh Ibnu Arabi, Abdul Karim Jili, Husain Mansur al-Hallaj, al-Bistami,
Fariduddin Attar Jalaluddin Rumi, Syah Nikmatullah, dan lain-lain.
Kecenderungannya terhadap mereka bisa dilihat ketika ia mengajarkan bahwa Tuhan
lebih dekat daripada urat leher manusia sendiri, dan bahwa Tuhan tidak
bertempat, sekalipun sering dikatakan bahwa Ia ada di mana-mana. Seperti ayat
berikut:
1.
وَنَحْنُ
أَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ
…Dan Kami lebih dekat kepadanya (manusia)
daripada urat lehernya. Beliau memaknai ayat itu, adalah ”Kami terlebih
dekat-yakni bercampur dan mesra, serta bersatu wujud Allah dengan
insan-daripada urat lehernya”. Akan tetpi, beliau menolak ajaran pranayama
dalam agama Hindu yang membayangkan Tuhan berada di bagian tertentu seperti
ubun-ubun yang dipandang sebagai jiwa dan dijadikan tiik konsentrasi dalam uaha
mencapai persatuan. Meski demikian, Hamzah juga mengembangkan ajaran-ajaran
tersebut berdasarkan pengalaman rohaniahnya sendiri.
Beliau juga
menguasai bahasa Arab, Persia, Urdu, dan merupakan penulis yang produktif, yang
menghasilkan bukan hanya risalah- risalah keagamaan, tapi juga karya- karya
prosa yang sarat dengan gagasan- gagasan mistis. Beberapa buku-buku syairnya,
antara lain; Syair Burung Pingai, Syair Dagang, Syair Pungguk, Syair
Sidang Faqir, Syair Ikan Tongkol, dan Syair Perahu. Adapun
karangan-karangannya dalam bentuk kitab ilmiah, antara lain; Asrarul
’Arifin, Fii Bayaani ’Ilmis Suluuki wat Tauhid, Syarbul ’Asyiqin, Al- Muhtadi,
Ruba’i Hamzah al Fansur.
2.
Syeikh Nawawi al- Bantani[6]
Syekh Nawawi bukan ulama yang ahli dalam sau bidang ilmu
saja, bahkan Abdurrahman Mas’ud menyebut dia sebagai ”Kiai Intelektual
Ensklopedi”. Ilmu yang dia ajarkan hampir semua cabang ilmu agama Islam seperti
fiqh, tauhid, tata bahasa Arab, dan bahkan tafsir al-Qur’an. Sesudah menuntut
ilmu selama 30 tahun dari para ulama dan tinggal di Makkah, Syekh Nawawi tidak
saja mampu membaca al-Qur’an secara sempurna, tetapi juga menghapalkannya.
Banyak murid belajar tafsir kepadanya, diantaranya adalah K.H Hasyim Asy’ari
(pendiri NU dan Pahlawan nasional), K.H Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadyah), dan
Kiai Kholil Bangkalan (tokoh kharismatik dari Madura). Mereka kemudian meminta
syekh untuk membukukan tafsir al-Qur’an yang dia ajarkan kepada mereka. Kitab
tafsirini pada akhirnya terbit dan dikenal sebagai Tafsir Marah Labid
atau Tafsir al-Munir atau Tafsir an-Nawawi.
Tidak seperti sufi Indonesia lainnya yang lebih banyak
porsinya dalam menyadur teori-teori genostik Ibnu Arabi, Nawawi justru
menampilkan tasawuf yang moderat antara hakikat dan syariat. Dalam formulasi pandangan tasawufnya
tampak terlihat upaya perpaduan antara fiqh dan tasawuf. Ia lebih Gazalian
(mengikuti Al-Ghazali) dalam hal ini. Bagi Nawawi Tasawuf berarti pembinaan
etika (Adab). Penguasaan ilmu lahiriah semata tanpa penguasaan ilmu batin akan
berakibat terjerumus dalam kefasikan, sebaliknya seseorang berusaha menguasai
ilmu batin semata tanpa dibarengi ilmu lahir akan terjerumus ke dalam zindiq.
Jadi keduanya tidak dapat dipisahkan dalam upaya pembinaan etika atau moral
(Adab)
3.
Syeikh H. Abdul Malik
Karim Amrullah (HAMKA)[7]
Beliau aktif dalam soal keagamaan dan
politik, selain itu ia
merupakan seorang wartawan, penulis, editor, dan penerbit.. Sejak tahun
1920-an, ia menjadi wartawan beberapa
buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan
Muhammadiyah.Pada yahun 1928, ia menjadi editor dan menerbitkan majalah
al-Mahdi di Makassar.
Untuk menimbulkan persepsi yang
berbeda di kalangan khalayak ramai tentang tasawuf, Hamka kemudian memunculkan
istilah tasawuf modern. Hal ini berdasar pada prinsip tauhid, bukan pencarian
pengalaman mukasyafah. Jalan tasawufnya dibangun lewat sikap zuhud yang
dapat dirasakan melalui peribadatan resmi. Penghayatan tasawufnya berupa
pengalaman takwa yang dinamis, bukan keinginan untuk bersatu dengan Tuhan (univate
state), dan refleksi tasawufnya berupa penampakan semakin tingginya semagat
dan nilai kepekaan social-relligius (social keagamaan), bukan karena
ingin mendapatkan karamah (kekeramatan) yang bersifat magis,
metafisis, dan yang sebagainya. Konsep-konsep tasawuf yang diterangkan
Hamka sangat dinamis. Ia memahami tasawuf dengan pemahaman yang lebih tepat
dengan roh dan semangat ajaran Islam. Hamka tidak memahami tasawuf sebagaimana
gerakan tarekat dan sufistik pada umumnya. Tasawuf model Hamka ini menandingi
tasawuf tradisional yang cenderung membawa bibit-bibit ke-bid’ah-an, khurafat,
dan kesyirikan. Sementara Hamka adalah ulama modernis (Mujaddid) yang
begitu anti dengan hal-hal tersebut. Dengan demikian, dapat dikatakan, corak
tasawuf Hamka adalah tasawuf pemurnian.
Tahun 1962 Hamka mulai menafsirkan
al-Qur’an, yakni “Tafsir al-Azhar” 30 juz (5 jilid). Tafsir ini sebagian besar
dapat terselesaikan selama di dalam tahanan. (Hari senin tanggal 12 Ramadhan
1385, bertepatan dengan 27 Januari 1964 sampai Juli 1969). Bulan Juli 1975,
Musyawarah Alim Ulama Seluruh Indonesia dilangsungkan. Hamka dilantik sebagai
Ketua Majelis Ulama Indonesia pada tanggal 26 Juli 1975 bertepatan dengan 17
Rajab 1395 M.
Hamka telah berpulang ke Rahmatullah
pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam
memartabatkan agama Islam
4.
Walisongo
Maraknya pengajian tasawuf dewasa
ini, dan kian bertambahnya minat masyarakat terhadap tasawuf memperlihatkan
bahwa sejak awal tarikh Islam di Nusantara, tasawuf berhasil memikat hati
masyarakat luas. Dalam banyak buku sejarah diuraikan bahwa tasawuf telah mulai
berperanan dalam penyebaran Islam sejak abad ke-12 M. Peran tasawuf kian
meningkat pada akhir abad ke-13 M dan sesudahnya, bersamaan munculnya kerajaan
Islam pesisir seperti Pereulak, Samudra Pasai, Malaka, Demak, Ternate, Aceh
Darussalam, Banten, Gowa, Palembang, Johor Riau dan lain-lain. Itu artinya Wali
Songo yang sangat berperan dalam penyebaran Islam di Indonesia khususnya Tanah
Jawa, mempunyai andil yang besar dalam mengajarkan tasawuf kepada masyarakat.
Pada abad ke-12 M, peranan ulama tasawuf sangat dominan di dunia Islam. Hal ini antara lain disebabkan pengaruh pemikiran Islam al-Ghazali (wafat 111 M), yang berhasil mengintegrasikan tasawuf ke dalam pemikiran keagamaan madzab Sunnah wal Jamaah menyusul penerimaan tasawuf di kalangan masyarakat menengah. Hal ini juga berlaku di Indonesia, sehingga corak tasawuf yang berkembang di Indonesia lebih cenderung mengikuti tasawuf yang diusung oleh al-Ghazali, walaupun tidak menutup kemungkinan berkembang tasawuf dengan corak warna yang lain.
Pada abad ke-12 M, peranan ulama tasawuf sangat dominan di dunia Islam. Hal ini antara lain disebabkan pengaruh pemikiran Islam al-Ghazali (wafat 111 M), yang berhasil mengintegrasikan tasawuf ke dalam pemikiran keagamaan madzab Sunnah wal Jamaah menyusul penerimaan tasawuf di kalangan masyarakat menengah. Hal ini juga berlaku di Indonesia, sehingga corak tasawuf yang berkembang di Indonesia lebih cenderung mengikuti tasawuf yang diusung oleh al-Ghazali, walaupun tidak menutup kemungkinan berkembang tasawuf dengan corak warna yang lain.
Abdul Hadi W. M. dalam tesisnya menulis : “Kitab tasawuf yang paling awal muncul di Nusantara ialah Bahar al-Lahut (lautan Ketuhanan) karangan `Abdullah Arif (w. 1214). Isi kitab ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran yang wujudiyah Ibn `Arabi dan ajaran persatuan mistikal (fana) al-Hallaj”. Ini menunjukan bahwa bahwa disamping tasawuf sunni juga berkembang tasawuf falsafi di masyarakat. Sehingga sejarah mencatat di samping Wali Songo sebagai pengusung tasawuf sunni juga muncul Syekh Siti Jenar sebagai penyebar tasawuf falsafi dengan ajaran ‘manunggaling kawula gusti’. Dengan demikian secara garis besar aliran tasawuf yang berkembang pada zaman Wali Songo dapat dikelompokan menjadi dua,yaitu:
1. Tasawuf Sunni[8]
Tasawuf sunni adalah bentuk tasawuf yang memagari dirinya dengan Al-Qur'an dan Al Hadits secara ketat, serta mengaitkan ahwal (keadaan) dan maqamat (tingkat rohaniah) mereka pada dua sumber tersebut. Tasawuf sunni adalah tasawuf yang mengedepankan praktis, maka termasuk di dalamnya tasawuf akhlaki dan amali. Dalam tasawuf sunni terdapat tiga langkah utama yang yang harus dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT :
·
Senantiasa mengawasi jiwa (muraqabah)
dan menyucikannya dari segala kotoran.
Firman Allah SWT: "Dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya rugilah orang yang mengotorinya". [Asy-Syams : 7-10]
Firman Allah SWT: "Dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya rugilah orang yang mengotorinya". [Asy-Syams : 7-10]
·
Memperbanyak zikrullah.
Firman Allah SWT: "Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya". [Al-Ahzab: 41]. Sabda Rasulullah SAW "Senantiasakanlah lidahmu dalam keadaan basah mengingat Allah SWT".
Firman Allah SWT: "Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya". [Al-Ahzab: 41]. Sabda Rasulullah SAW "Senantiasakanlah lidahmu dalam keadaan basah mengingat Allah SWT".
·
Zuhud di dunia, tidak terikat dengan
dunia dan gemarkan akhirat.
Firman Allah SWT: "Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?". (Al-Anaam : 32)
Firman Allah SWT: "Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?". (Al-Anaam : 32)
2. Tasawuf Falsafi[9]
Tasawuf Falsafi adalah sebuah konsep ajaran tasawuf yang mengenal Tuhan (ma'rifat) dengan pendekatan rasio (filsafat) hingga menuju ke tinggkat yang lebih tinggi, bukan hanya mengenal Tuhan saja (ma'rifatullah) melainkan yang lebih tinggi dari itu yaitu wihdatul wujud (kesatuan wujud). Bisa juga dikatakan tasawuf filsafi yakni tasawuf yang kaya dengan pemikiran-pemikiran filsafat.
Di
dalam tasawuf falsafi metode pendekatannya sangat berbeda dengan tasawuf sunni,
kalau tasawuf sunni lebih menonjol kepada segi praktis, sedangkan tasawuf
falsafi menonjol kepada segi teoritis sehingga dalam konsep-konsep tasawuf
falsafi lebih mengedepankan asas rasio dengan pendektan-pendekatan filosofis,
yang ini sulit diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi
orang awam, bahkan bisa dikatakan mustahil.
Salah satu bagian ajaran yang
disampaikan Syek Siti Jenar adalah ajaran "Sangkan Paraning Dumadi"
artinya asal dari segala ciptaan. Menurut Syek Siti Jenar bahwa pangkal dari
segala ciptaan adalah Dzat Wajibul Wujud yang tak terdefiniskan yang diberi
istilah "awang uwung" (Ada tetapi Tidak Ada, Tidak Ada tetapi Ada)
yang keberadaannya hanya mungkin ditandai oleh kata "tan kena kinaya ngapa"
yang disebut dalam Al Quran "Laisa Kamitslihi Syaiun" artinya "
tidak bisa dimisalkan dengan sesuatu”. Inilah tahap Ahadiyah. Dari keberadaan
Yang Tak Terdefinisikan itulah Dzat Wajibul Wujud. Yang Tak Terdefinisikan
mewahyukan Diri sebagai Pribadi Ilahi yang disebut Allah. Inilah tahap Wahdah
dimana Yang Tak Terdefinisikan mewahyukan diri menjadi Rabbul Arbab. Dari tahap
wahdah ini kemudian mewahyukan Diri sebagai Nur Muhammad. Inilah tahap
Wahidiyah dimana Yang Tak Terdefinisikan mewahyukan diri sebagai Rabb. Nur Muhammad
ini kemudian mewahyukan Diri menjadi semua ciptaan yang disebut mahluk, baik
yang kasat mata maupun tidak kasat mata.
Dengan pandangan itu konsep keesaan (tauhid) Ilahi yang diajarkan Syekh Siti Jenar tidak bisa disebut wahdatul wujud, karena di dalam doktrinnya disebutkan bahwa "Dia Yang Esa sekaligus Yang Banyak (al wahid al katsir), Dia adalah Yang Wujud secara bathin dan Yang Maujud secara dhahir, sehingga disebut Yang Wujud sekaligus Yang Maujud (Ad-Dhahir Al Bathin)".
Berbagai pandangan muncul dalam memberi tanggapan terhadap tasawuf Syekh Siti Jenar dengan ajaran “manunggaling kawula gusti”-nya, diantaranya :
1. Menganggap Syekh Siti Jenar Sesat, dengan alasan ajaran tasawufnya telah tercampuri ajaran filsafat, yang mengatakan bahwa makhluk itu merupakan pancaran dari sang Khalik (Teori Emanasi), sehingga dia berani menyatakan diri sebagai tuhan karena dirinya mewarisi sifat-sifat tuhan.
Dengan pandangan itu konsep keesaan (tauhid) Ilahi yang diajarkan Syekh Siti Jenar tidak bisa disebut wahdatul wujud, karena di dalam doktrinnya disebutkan bahwa "Dia Yang Esa sekaligus Yang Banyak (al wahid al katsir), Dia adalah Yang Wujud secara bathin dan Yang Maujud secara dhahir, sehingga disebut Yang Wujud sekaligus Yang Maujud (Ad-Dhahir Al Bathin)".
Berbagai pandangan muncul dalam memberi tanggapan terhadap tasawuf Syekh Siti Jenar dengan ajaran “manunggaling kawula gusti”-nya, diantaranya :
1. Menganggap Syekh Siti Jenar Sesat, dengan alasan ajaran tasawufnya telah tercampuri ajaran filsafat, yang mengatakan bahwa makhluk itu merupakan pancaran dari sang Khalik (Teori Emanasi), sehingga dia berani menyatakan diri sebagai tuhan karena dirinya mewarisi sifat-sifat tuhan.
2. Menganggap Syekh Siti Jenar Tidak Sesat, dengan alasan ajaran Syekh Siti Jenar lebih memberikan tekanan pada filsafat ketuhanan dan filsafat kebenaran dengan kata lain bukan lagi berhenti pada tataran syariat, tetapi telah melangkah pada tataran yang lebih tinggi yakni hakekat. Sebagaimana diketahui tahapan tasawuf itu meliputi syariat, tarekat, hakekat dan makrifat. Hanya saja ketika ajaran ini disampaikan kepada orang awam maka akan menimbulkan penafsiran yang berbeda tentang Tuhan. Karena itu Wali Songo sepakat untuk melenyapkan Syekh Siti Jenar dalam rangka melindungi pemahaman ketauhidan mayoritas orang awam pada saat itu.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Seiring
dengan masuk dan berkembangnya agama islam di Indonesia, tasawuf juga mengalami
perkmbangn yang sangat pesat. Di Indonesia sendiri tasawuf terpecah menjadi
dualiran yaitu tasawuf suni dan tasawuf falsafi.
Karena
perkembangannya sangat pesat, maka banyak bermunculan aliran-aliran tarekat
untuk mempelajari tasawuf.
Perkembangan taswuf di
Indonesia mempunyai hakikat tujuan yakni islamisasi penduduk Indonesia yang
masih menganut kepercayaan tradisional yang bersifat animisme, dinamisme dengan
pengaruh mistiknya, sementara itu tasawuf digunakan oleh para wali untuk
mengadakan pendekatan dengan masyarakat. Perkembangan tasawuf bukan hanya di
pulau jawa akan tetapi di pulau-pulau lain kepulauan nusantara.
Berdasarkan hal diatas
, perkembangan Islam di Indonesia sangat terkait sejarah dan pemikirian
tasawuf. Atau dengan kata lain penyebaran Islam di Nusantara tidak dapat
dipisahkan dari tasawuf. Bahkan " Islasm Pertama " yang dikernal di
Nusantara ini sesungguhnya adalah Islam yang disebarkan dengan sufistik. Para
penyebar Islam di Indonesia itu umunya pada Da'i yang memiliki pengetahuan dan
pengamalan tasawuf. Dianatar mereka juga banyak yang menjadi pangamal dan
penyebar tarekat di Indonesia.
Daftar
Pustaka
Dr. H.
Abuddin Nata, M.A. AKHLAK TASAWUF. PT. Raja Grafindo Persada,
Jakarta:2002
Dr. Hj. Sri
Mulyati, MA. Mengenal & Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di
Indonesia. Prenada Media, Jakarta:2005
Dr. Hj. Sri
Mulyati, MA.Tasawuf Nusantara
RangkaianMutiara Sufi Terkemuka. Prenada
Media, Jakarta:2005
Drs.
Kharisudin Aqib, M.Ag. Al Hikmah Memahami Theosofi Tarekat Qadiriyah wa
Naqsyabandiyah. Dunia Ilmu Offset:1998
Drs.
Mahyuddin. Kuliah Akhlak Thaswuf. Kalam Mulia, Jakarta:2005
Prof Dr.
Ahmad Daudy, MA. Tasawuf Aceh.
Bandar Publishing, Aceh;2008.
http://daritemanuntukteman.blogspot.com/2009/07/sebuah-catatan-kecil-dari-tasawuf-di.html
Sri
Mulyani,Tasawuf Nusantara, Kencana, Jakarta, 2006, hal, 1
http://izubed.blogspot.com/2012/05/perkembangan-tasawuf-dan-tarekat.html
http://taurylubiz.blogspot.com/2011/05/tokoh-tokoh-tasawwuf-di-indonesia.html
http://jawharie.blogspot.com/2010/12/perkembangan-tasawuf-pada-zaman-wali.html
[1] http://daritemanuntukteman.blogspot.com/2009/07/sebuah-catatan-kecil-dari-tasawuf-di.html
[2] Sri Mulyani,Tasawuf Nusantara, Kencana, Jakarta, 2006, hal, 1
[3] http://izubed.blogspot.com/2012/05/perkembangan-tasawuf-dan-tarekat.html
[4] http://izubed.blogspot.com/2012/05/perkembangan-tasawuf-dan-tarekat.html
[5] http://taurylubiz.blogspot.com/2011/05/tokoh-tokoh-tasawwuf-di-indonesia.html
[6] http://taurylubiz.blogspot.com/2011/05/tokoh-tokoh-tasawwuf-di-indonesia.html
[7] http://taurylubiz.blogspot.com/2011/05/tokoh-tokoh-tasawwuf-di-indonesia.html
[8] http://jawharie.blogspot.com/2010/12/perkembangan-tasawuf-pada-zaman-wali.html
[9] http://jawharie.blogspot.com/2010/12/perkembangan-tasawuf-pada-zaman-wali.html
[10] http://jawharie.blogspot.com/2010/12/perkembangan-tasawuf-pada-zaman-wali.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar