Jumat, 16 November 2012

Agama Bukan untuk Bercanda!


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitabNya:

“Orang-orang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka suatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: ‘teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan RasulNya)’. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang takuti.”(QS. At-Taubah [09]: 64).

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: ‘sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja’. Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan RasulNya, kamu selalu berolok-olok?” (QS. At-Taubah [09]: 65).

“Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka bertaubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At-Taubah [09]: 66).

Ayat ini menjelaskan sikap orang-orang munafik terhadap Allah, RasulNya dan kaum mukminin. Kebencian yang selama ini mereka pendam, terlahir dalam bentuk ejekan dan olok-olokan terhadap Allah dan RasulNya. Berkaitan dengan ayat ini, Ibnu Katsir mencantumkan sebuah riwayat dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi dan lainnya yang menjelaskan kepada kita bentuk pelecehan dan olokan mereka terhadap Allah, Rasul-Nya dan  ayat-ayatNya.

Ia berkata: “Seorang lelaki munafik mengatakan: ‘Menurutku, para qari (pembaca al-Qur’an) kita ini hanyalah orang-orang yang paling rakus makannya, paling dusta perkataannya dan paling penakut di medan perang’. Sampailah berita tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, lalu orang munafik itu menemui beliau, sedangkan beliau sudah berada di atas ontanya bersiap-siap hendak berangkat. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.” Maka turunlah firman Allah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” Sesungguhnya kedua kakinya tersandung-sandung batu, sedangkan Rasulullah tidak menoleh kepadanya, dan ia bergantung di tali pelana Rasulullah. [Tafsir Ibnu Katsir, juz II, hlm. 454, cet. Darul Alam al-Kutub Riyadh, cetakan kedua, tahun 1418H/1997M].

Ayat ini menjelaskan hukum memperolok-olok Allah, ayat-ayatNya, agamaNYa dan syiar-syiar agama, yaitu hukumnya KAFIR. Barangsiapa memperolok-olok RasulNya, berarti ia telah memperolok-olok Allah. Barangsiapa memperolok-olok ayat-ayatNya, berarti ia telah memperolok-olok RasulNya.Barangsiapa memperolok-olok salah satu daripadanya, berarti ia memperolok-olok seluruhnya. Perbuatan yang dilakukan oleh kaum munafikin itu adalah memperolok Rasul dan sahabat beliau, lalu turunlah ayat ini sebagai jawabannya.

Sikap memperolok-olok syiar agama bertentangan dengan keimanan. Dua sikap ini dalam diri seseorang tidak akan bisa bertemu. Oleh karena itu, Allah menyebutkan bahwa pengagungan terhadap syiar-syiar agama berasal dari ketaqwaan hati. Allah berfirman: “ Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati.” (QS. Al-Hajj [22]: 32).

MAKNA ISTIHZA
Istihza’ secara bahasa artinya sukhriyah, yaitu melecehkan. Ar-Raghib al-Ashfahani berkata, “al-huzu’, adalah senda- gurau tersembunyi. Kadang kala disebut juga senda-gurau atau kelakar.”  Al-Baidhawi berkata, “al-istihza’ artinya adalah pelecehan dan penghinaan. Dapat dikatakan haza’tuatau istihza’tu. Kedua kata itu sama artinya. Seperti kata ajabtu dan istajabtu.” [Lisanul Arab I/183,al-Mishbahul Munir, hlm. 787 dan Al-Mufradat, hlm. 790.].

Dari penjelasan di atas dapat kita ketahui makna istihza’. Yaitu pelecehan dan penghinaandalam bentuk olok-olokan atau kelakar.


ISTIHZA’, DAHULU DAN SEKARANG
Perbuatan mengolok-olok agama dan syiar-syiar agama ini, bukan hanya muncul pada masa sekarang, namun akarnya sudah ada sejak dahulu. Banyak sekali bentuk-bentuk istihza’ yang dilakukan oleh orang-orang dahulu maupun sekarang. Diantaranya:

Dalam bentuk plesetan-plesetan yang menghina agama.
    Bisa dikatakan, Yahudilah yang menjadi pelopor dalam membuat plesetan-plesetan yang isinya menghina Allah, RasulNya dan Islam. Sikap mereka ini telah disebutkan oleh Allah dalam firmannya,“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa’ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.”(QS. Al-Baqarah [02]: 104).

    Raa’ina artinya sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. Dikala para sahabat menggunakan kata-kata ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, orang-orang Yahudipun memakainya, akan tetapi mereka plesetkan. Mereka katakan ru’unah, artinya ketololan yang amat sangat. Ini sebagai ejekan terhadap Rasulullah. Oleh karena itu, Allah menyuruh para sahabat agar menukar perkataanraa’ina dengan unzhurna, yang juga sama artinya dengan raa’ina. Yahudi juga memplesetkan ucapan salam menjadi as-saamu ‘alaikum yang artinya ‘semoga kematianlah atas kamu’. Mereka tujukan ucapan itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

    Memang, urusan pleset-memplesetkan ini orang Yahudi merupakan biangnya. Celakanya, sikap seperti inilah yang ditiru oleh sebagian orang jahil. Mereka menjadikan agama sebagai bahan plesetan. Seperti yang dilakukan para pelawak yang memplesetkan ayat-ayat al-Qur’an dan syiar-syiar agama. Sebagai contoh, memplesetkan firman Allah yang berbunyi “laa taqrabuu zina”kemudian diartikan “jangan berzina di hari rabu.”

    Demikian pula, kita sering mendengar dari sebagian orang yang memplesetkan lafadz azan. Sebagai contoh ucapan “hayya ‘alal falaah”, mereka plesetkan menjadi “hayalan saja.” Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk plesetan yang hakikatnya adalah pelecehan terhadap syiar-syiar agama.

    Hendaklah orang-orang yang melakukannya segera bertaubat dengan taubatan nasuha. Dan bagi para orang tua, hendaklah mencegah dan melarang anak-anaknya, apabila mendengar anak-anak mereka melatahi plesetan-plesetan bernada pelecehan tersebut. Hendaklah mereka ketahui bahwa perbuatan seperti itu merupakan perbuatan yahudi.

    Dalam bentuk ejekan dan sindiran terhadap syiar-syiar agama dan orang-orang yang mengamalkannya.
      Seringkali kita mendengar sebagian orang tak bermoral mengejek wanita-wanita muslimah yang mengenakan busana-busana Islami dengan bercadar dan warna hitam-hitam dengan ejekan “Ninja! Ninja!” atau mengejek yang taat memelihara jenggotnya dengan ejekan “kambing!” atau seorang muslim yang berpakaian menurut sunnah tanpa isbal (tanpa menjulurkannya melebihi mata kaki) dengan ejekan: “pakaian kebanjiran”. Sering kita dapati di kantor-kantor, para pegawai yang taat menjalankan syiar agama ini diejek oleh rekan kerjanya yang jahil alias bodoh. Sekarang ini kaum muslimin yang taat menjaga identitas keislamannya, seringkali dicap dan diejek dengan sebutan teroris dan lain sebagainya. Yang sangat memprihatinkan adalah para pelaku pelecehan dan ejekan itu adalah dari kalangan kaum muslimin sendiri.

      Dalam bentuk sindiran terhadap Islam dan hukum-hukumnya.
        Seperti orang yang mengejek hukum hudud dalam Islam, semisal potong tangan dan rajam dengan sebutan hukum barbar. Menyebut Islam sebagai agama kolot dan terbelakang. Menyebut syariatthalak dan ta’adud zaujaat (poligami) sebagai kezhaliman terhadap kaum wanita. Atau ucapan bahwa Islam tidak cocok diterapkan pada zaman modern. Dan ucapan-ucapan sejenisnya.

        Dalam bentuk perbuatan dan bahasa tubuh atau gambar.
          Seperti isyarat, istihza’ dalam bentuk karikatur dan sejenisnya.


          HUKUM ISTIHZA’
          Istihza’ termasuk salah satu dari pembatal-pembatal keislaman. Dalam ta’liq terhadap kitabAqidah ath-Thahawiyah, Syaikh Shalih al-Fauzan mengatakan: “Pembatal-pembatal keislaman sangat banyak. Diantaranya adazalah juhud (pengingkaran), syirik dan memperolok-olok agama atau sebagian dari syiar agama—meskipun ia tidak mengingkarinya--. Para ulama dan ahli fiqh telah menyebutkannya dalam bab-bab riddah (kemurtadan).

          Ketika mengomentari surat at-Taubah ayat 64-66 di atas, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Ayat ini merupakan nash bahwasanya memperolok-olok Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya hukumnya KAFIR.” [Ash-Sharimul Maslul, hlm. 31 dan Majmu’ Fatawa XV/48].
          Abu Bakar Ibnul Arabi menjelaskan ayat tersebut sebagai berikut: “Apa yang dikatakan oleh orang-orang munafik tersebut tidak terlepas dari dua kemungkinan, sungguh-sungguh atau cuma berkelakar saja. Dan apapun kemungkinannya, konsekuensi hukumnya hanya satu, yaitu KUFUR. Karena berkelakar dengan kata-kata kufur adalah kekufuran. Tidak ada perselisihan diantara ummat dalam masalah ini. Karena kesungguhan itu identik dengan ilmu dan kebenaran. Sedangkan senda-gurau itu identik dengan kejahilan dan kebatilan.” [Ahkamul Qur’an II/964, lihat juga Tafsir al-Qurthubi VIII/197].

          Al-Qadhi Iyadh berkata: “Barangsiapa mengucapkan perkataan keji dan kata-kata yang berisi penghinaan terhadap keagungan Allah dan kemuliaannya, atau melecehkan sebgaian dari  perkara-perkara yang diagungkan oleh Allah, atau memplesetkan kata-kata untuk mahluk yang sebenarnya hanya layak ditujukan untuk Allah tanpa bermaksud kufur atau melecehkan, atau tanpa sengaja melakukan ilhad (penyimpangan); jika hal itu berulang kali dilakukannya, lantas ia dikenal dengan perbuatan itu sehingga menunjukkan sikapnya yang mempermainkan agama, pelecehannya terhadap kehormatan Allah dan kejahilannya terhadap keagungan dan kebesaranNya, maka tanpa ada keraguan lagi, hukumnya adalah KAFIR.” [Asy-Syifaa II/1092].

          Dari penjelasan para ulama di atas dapat disimpulkan bahwa istihza’ bid din termasuk dosa besar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama.

          PENUTUP
          Tulisan ini merupakan peringatan dan nasehat kepada segenap kaum muslimin dari perbuatan dosa besar yang dapat mengakibatkan pelakunya keluar dari Islam. Berapa banyak kita dapati bentuk-bentuk penghinaan terhadap syiar-syiar agama, plesetan-plesetan yang berisi sindiran terhadap agama, karikatur-karikatur lelucon yang berisi ejekan dan lain sebagainya. Khususnya banyak kita dapati anak-anak kaum muslimin melatahi bentuk-bentuk istihza’ ini. Anehnya, para orangtua diam saja melihatnya tanpa memperingatkan atau memberi hukuman terhadap anak-anak mereka. Sehingga istihza’ ini menjadi hal yang biasa di kalangan kaum muslimin, padahal termasuk dosa besar. Na’udzubillah min dzalik.

          Bagi siapa saja yang diserahkan mengurusi urusan kaum muslimin, hendaklah cepat tanggap mengambil tindakan terhadap setiap bentuk pelecehan terhadap agama, apapun bentuknya. Karena hal itu termasuk kejahatan yang harus dibasmi, dan pelakunya berhak dihukum dengan hukuman yang berat. []

          Judul Asli: Hukum Istihza’ bid-Din
          Disusun oleh: Abu Ihsan al-Atsary
          Dikutip dari majalah as-Sunnah Edisi 05/tahun VIII/1425H/2004M
          [diringkas oleh Lonewolf Skywatcher]

          Tidak ada komentar:

          Poskan Komentar